17 Juli 2026

NgeShare - Sepeda Caca

Akhirnya sepeda itu digunakan lagi setelah setahun tak dipakai. Aku ingat membelinya untuk Caca, ketika usianya masih 2 tahun. Kubelikan karena mengingat salah satu keinginan alm. Bapak yang belum sempat terlaksana. "Nanti kalau kamu sudah agak besar, mbah kung belikan sepeda, ya, Nduk," ujar alm. Bapak waktu itu yang sedang menggendong Caca.

Berhubung masih ada rejeki dan mumpung teringat keinginan alm. Bapak, aku memutuskan untuk membeli sepeda ini sebagai hadiah ulang tahunnya yang kedua. Aku masih ingat betul waktu pertama kali Caca melihat sepeda ini. Ia bingung sesaat, sebelum akhirnya tertawa setelah kunaikan ia ke atas sepedanya. Ia terlihat senang ketika sepeda mulai kudorong dan kuajak berkeliling. Sayangnya setelah Caca sudah bisa berjalan, sepeda roda tiga ini mulai jarang digunakan. Ditambah lagi aku yang mulai kembali sibuk bekerja tak sempat mengajaknya jalan-jalan dengan sepeda roda tiganya.

Tak terasa sepeda itu hanya terparkir di garasi hampir 2 tahun. Melihat Jian (adik Caca) yang sudah mulai terlihat agak besar dan bisa duduk, aku jadi teringat dengan sepeda Caca yang ada di garasi. "Sepertinya Jian sudah bisa didudukan di sepeda ini," batinku dalam hati. Kalau Jian bisa pakai sepeda ini, jika nanti aku atau pengasuhnya mau mengajaknya jalan-jalan, Jian tidak perlu digendong lagi, pikirku juga waktu melihat sepeda Caca.

Hampir 2 tahun sepeda ini tak terpakai, tentunya ia tak lepas dari debu-debu dan kotoran. Aku memutuskan untuk membersihkannya. Selesai mencuci motor, aku lanjutkan dengan mencuci sepeda Caca.

Ya, maklum hampir 2 tahun tidak digunakan, kotornya sepeda Caca sudah minta ampun. Selesai mencuci sepeda Caca, aku menjemurnya di bawah sinar matahari langsung. Berharap bisa cepat kering dan digunakan Jian. Eh, tapi belum sempat kering ternyata Mbak (ibunya Caca & Jian) mencuci ulang sepeda itu.

"Tak cuci lagi ya, masih ada kotoran yang perlu disikat ini," ujar Mbak sambil menyikat jok sepeda Caca. Esoknya, sepeda itu baru kering. Dan ketika sudah kering, ibunya Caca membawa sepeda itu ke dalam rumah dengan maksud akan mencoba mendudukan Jian di sepeda itu. Ah, tapi belum sempat mendudukan Jian, Caca buru-buru naik ke sepeda itu. "Wah, ini sepedaku," ujarnya dengan begitu riang.

Alhasil, rencana Mbak waktu itu terhenti sejenak. Mbak menunggu Caca merasa bosan dulu dengan sepedanya. Ketika Caca sudah bosan dengan sepedanya, barulah Mbak mendudukan Jian di sepeda itu. Jian awalnua merasa bingung, sebelum akhirnya terlihat senang dengan kakinua yang terus-terusan bergerak. Ah, tapi baru sekitar 15 menit Jian duduk di atas sepeda itu, Caca protes dengan berkata, "Mama, itu sepedaku!"

Mendengar kalimat protes Caca, Mbak geleng-geleng kepala sebelum akhirnya berkata, "Jian pinjam sebentar sepedanya, ya, Kak." Sayangnya Caca belum begitu mengerti dan memaksa agar Jian turun dari sepedanya. Lucunya beberapa hari setelah kejadian itu, Caca terlihat lebih sering mendorong sepeda yang sedang dinaiki adiknya. Ia nampak seperti seorang kakak yang sedang ngemong/ mengasuh adiknya.

"Kalau saja Mbah Kung & Mbah Uti kalian masih ada, mungkin mereka berdua akan tertawa melihat tingkah laku kalian berdua," batinku dalam hati saat melihat Caca sedang mendorong sepeda yang dinaiki adiknya.

14 Juli 2026

NgeShare - Bekal Kenangan

Tadi pagi sepulang dari rumah alm. Bapak, aku melihat mbak (ibunya Caca) sedang sibuk di dapur rumahnya. "Mau bikin bekal untuk Caca," ujarnya sambil tangannya sedang sibuk memotong tempe setelah kutanyai perihal apa yang dilakukannya. Melihat mbak yang sedang sibuk, aku jadi teringat ucapannya tadi malam yang mengatakan kalau MBG di sekolah Caca masih belum berjalan, dan juga ada anjuran dari sekolah Caca agar para orang tua murid bisa membawakan anaknya bekal.

"Itu yang wadah biru untuk kamu, ya," kata mbak kepadaku sambil menunjukkan wadah bekal berwarna biru yang sudah disiapkannya di atas meja makan. Setelah mengucapkan terima kasih pada mbak, aku sejenak memandangi wadah bekal itu, sebelum akhirnya bergegas mengambil handuk untuk lekas mandi dan lanjut berangkat ke tempat kerja.

Ketika akan berangkat kerja, aku tak lupa membawa bekal yang sudah disiapkan mbak. Kumasukkan wadah bekal yang ukurannya cukup besar itu pada wadah kresek bening. Lalu menggantungkannya pada gantungan barang yang ada di motorku. Sebelum menyalakan motor, sejenak aku terdiam lagi. Terdiam sambil memandangi wadah bekal itu, lalu mengingat kenangan masa lalu. Kenangan waktu pertama dan terakhir kalinya aku dibuatkan bekal oleh almh. Ibu ketika pertama kali bekerja.

Seingatku 6 tahun yang lalu, sepulang dari masa training. "Bu, boleh nggak kalau besok aku minta dibuatkan bekal? Itung-itung biar hemat juga, Bu, hehe...," ujarku pada almh. ibu.

"Boleh, mau dimasakin apa?" tanya almh. Ibu waktu itu.

"Kayaknya nasi goreng pakai telur dadar enak, Bu, hehe..." jawabku.

Esoknya sebelum Subuh, aku mendengar suara seseorang sedang memasak di dapur. "Hmm..., bau nasi goreng, Ibu pasti sedang menyiapkan bekalku," batinku dalam hati usai terbangun dari mimpi.

"Nasi gorengnya udah ibu siapin di dalam wadah bekal itu ya, jangan lupa dibawa," pesan ibu padaku ketika aku menyusulnya ke dapur.

Di tempat kerja, waktu jam istirahat, aku menyantap bekal yang dibuatkan Ibu dengan lahap. Dan entah kenapa rasanya waktu itu, rasa nasi goreng buatan ibu terasa nikmat sekali. Eh, tapi nasi goreng buatan beliau yang sebelum-sebelumnya juga nikmat lho, hanya saja yang ini rasanya lebih nikmat dari sebelumnya.

Pada hari berikutnya, ibu mengeluh sakit, dan mengharuskannya untuk rawat jalan. Aktivitasnya di rumah juga harus dikurangi, tak lagi boleh melakukan aktivitas berat, apalagi memasak. Dokter menganjurkannya untuk beristirahat total. Dan semenjak saat itu, aku tak lagi melihat ibu memasak sampai akhirnya Allah memanggilnya untuk pulang.

"Bu, barangkali di sana kau dan bapak sudah melihatnya. Melihatt anak perempuanmu satu-satunya yang dulu kalau mau masak harus nunggu moodnya dulu sekarang sudah bisa menyiapkan bekal untuk anaknya. Bukan hanya bekal untuk cucumu saja, tapi juga untukku, lho. Ah, jadi kangen bekal buatanmu, Bu, hehe...," batinku dalam hati sambil masih memandangi wadah bekal yang kugantungkan pada gantungan barang di motorku. Usai memandangangi wadah bekal itu dan mengingat masa lalu, aku menyalakan motor. Lalu tancap gas menuju tempat kerja dengan harapan semoga tidak terlambat karena aku baru berangkat di waktu yang mepet, hehe...

6 Juli 2026

NgeShare - Terima Kasih Chobi

Kenalkan, namanya Chobi, motor Honda CB100 keluaran tahun 1978. Aku membelinya setahun lalu, yang dulu niatnya beli karena ingin belajar mengendarai motor kopling. Sebuah keinginan yang sebenarnya sudah lama aku pendam. Tapi keinginan itu baru memuncak ketika melihat kegemaran Kakak Iparku (Ayahnya Caca) yang sering touring menggunakan motor koplingnya.

Berhubung hidup cuma sekali, rasa-rasanya nggak ada salahnya untuk belajar mengendarai motor kopling, kan? Ah, iya, sebelum mulai belajar mengendarai motor kopling menggunakan si Chobi ini, aku awalnya belajar menggunakan motor RX Spesial milik ayahnya Caca, dan ternyata lumayan susah. "Yah, barangkali karena memang belum terbiasa," pikirku waktu itu.

Aku lalu kepikiran untuk beli motor kopling sendiri. Iya, beli, karena motor ayahnya Caca ini nggak selalu ada di rumah karena dibawanya bekerja di luar kota. Jadi, harus nunggu motornya ada dulu, baru bisa belajar. Mengingat ada pepatah mengatakan "bisa karena terbiasa", tapi kalau alatnya nggak selalu ada, rasanya akan sulit untuk menjadi terbiasa. Aku memutuskan untuk membeli motor kopling sendiri.

"Nyari yang CCnya kecil aja, ah. Toh buat belajar," pikirku ketika akan mencari motor pilihanku di Facebook Marketplace. Pilihanku akhirnya tertuju pada si Choobi ini. Selain karena tampilannya yang terlihat masih bagus, juga karena surat-suratnya masih lengkap, ditambah lagi pajaknya masih hidup. Aku lantas mengajak penjual si Chobi ini untuk CODan di rumah mbak. Dan setelahnya, aku mulai belajar mengendarainya.

Mati mesin yang tiba-tiba jadi tantanganku ketika belajar mengendarainya Chobi. "Lama-lama nanti pasti kamu bisa nemuin fellingnya buat ngepasin antara kopling dan gasnya," ujar Kakak Iparku. Dan benar saja, lama-kelamaan fellingku untuk menyeimbangkan gas dan kopling muncul. Aku baru lancar mengendarai Chobi setelah 2 minggu belajar. Lumayan lama, ya? Hehe...

Btw, dulu niatnya beli Chobi ini hanya untuk sekadar belajar. Eh, nggak taunya malah lanjut ke restorasinya. Dari mulai ganti tangki, slebor belakang, knalpot, swing arm, sampai kelistrikan dan lampunya. Seingatku proyek terakhir restorasi si Chobi ini, yaitu ganti shock belakangnya.

Setelah tampilan Chobi terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya, dan aku juga sudah lumayan handal mengendarainya, aku memberanikan diri untuk mengendarainya dengan jarak yang lebih jauh dari sekitaran rumah. Sesekali juga sambil mengajak Caca yang kalau aku ajak selalu bilang, "Asyik, naik motol melah Om."

Dulu, aku pun pernah sekali mengajak Chobi touring cukup jauh. Touring ke kota Solo dengan maksud untuk nostalgia. Sebenarnya aku ingin mengendarainya hingga ke Yogyakarta dengan tujuan salah satu toko buku yang terkenal di sana. Sayangnya, di Solo, aku menjumpai ada tetesan oli yang menetes dari bawah mesin Chobi. "Wah, rembes, nih," ujarku kecewa dengan agak panik.

Tak mau ambil resiko, aku mengurungkan niatku untuk melanjutkan perjalanan ke Yogya. Selesai membawa Chobi ke bengkel terdekat di Solo, aku putar balik untuk pulang ke Ngawi. Tapi bukannya lewat jalan bawah (jalan Sragen - Ngawi), aku justru pulang melalui jalan Tawangmangu Maospati.

"Ah, nyoba lewat Tawangmangu ah. Cuaca panas gini kayaknya enak kalau lewat Tawangmangu," batinku dalam hati. Dan ternyata memang enak, karena waktu itu Tawangmangu sedang sejuk-sejuknya. Ditambah lagi si Chobi yang begitu nyaman melalui naik turunnya jalanan Tawangmangu. Momen berkendara waktu itu makin seru lagi ketika aku berpapasan dengan pengendara CB lain. Mereka akan mengklaksonku dengan gestur menyapa. "Ah, jadi gini ya rasanya punya motor CB," batinku senang dalam hati. Itu jadi momen pertama sekaligus terkahir kalinya aku touring dengan si Chobi.

Hampir setahun Chobi menemaniku, aku memutuskan untuk menjualnya. "Ah, rasanya sudah cukup dengan Shogi dan Bety (motor beatku)," batinku dalam hati ketika berniat untuk menjual Chobi. Sebenarnya aku masih ingin menyelesaikan proyek restorasi Chobi, tapi mengingat ada kebutuhan lain yang lebih penting, menjualnya adalah pilihan yang menurutku bijak.

Tepat dua hari yang lalu, seorang dari luar kota membeli si Chobi. "Mau buat ponakanku, Mas. Orange pengen motor CB," ujarnya dengan wajah ceria. Aku menyambutnya dengan hangat, lalu menjelaskan perihal kelengkapan surat dan kondisi Chobi padanya. Tak sampai setengah jam, aku dan pembeli Chobi sudah deal. Setelah itu, Chobi dinaikkan ke atas mobil pickup untuk dibawa pulang pemilik barunya. "Ca, sekarang udah nggak bisa jalan-jalan lagi pakai motor merahnya om, ya," batinku dalam hati ketika melepas kepergian Chobi dengan pemilik barunya.
_____

"Terima kasih untuk cerita perjalanannya, Bi. Semoga kamu awet dengan pemilik barumu, ya."


27 Juni 2026

NgeShare - Kamu Hebat

"Ya Om, kamu hebat," ujar Caca ketika aku menemaninya bermain di depan rumah. Kata-kata yang membuatku tertegun sesaat, sebelum akhirnya aku membalas ucapannya itu dengan ucapan terima kasih. Itu adalah kali pertama aku mendengar Caca mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang kemudian membuatku bertanya-tanya perihal darimana ia belajar kata-kata itu. Kalimat yang juga membuatku merasa kembali kuat selepas lelah dengan kehidupan, yang rasa-rasanya banyak gagalnya ini.

Kalimat sederhana yang diucap Caca itu pun rasa-rasanya kalimat pertama yang aku dengar selama hidupku. Kalimat penyemangat yang tak pernah sekalipun aku dengar dari siapa-siapa. Meskipun begitu, bukan berarti aku tak pernah sekalipun disemangati oleh siapa-siapa, terutama orang-orang terdekatku, ya. Hanya kalimat dan caranya saja berbeda. Dan kalimat "kamu hebat" baru aku dengar sekali dari seorang anak kecil berumur 3 tahun.

"Perasaan aku nggak ngelakuin hal hebat. Ah, mungkin Caca asal ngomong aja, hehe..." batinku dalam hati selesai mengucapkan terima kasih pada Caca. Ya, barangkali Caca hanya sekadar asal bicara karena baru belajar kosa kata baru yang entah ia peroleh dari mana. Entah dari kartun yang ditontonnya di televisi atau ibunya yang mengajari. Entahlah, tapi kalimat yang barusan diutarakan Caca padaku waktu itu, selain membuatku merasa tenang dan kembali kuat, juga seakan menyadarkanku satu hal. "Nggak apa-apa kalau berkali-kali nggak terlihat hebat di hadapan orang lain terutama wanita, setidaknya aku nggak gagal terlihat hebat di mata keponakan, hehe..," batinku bangga dalam hati.


30 Mei 2026

NgeShare - Menghidupkan Kembali Kandang Ayam Peninggalan Bapak


"Pak, kandang ayamnya bapak sekarang sudah ada penghuninya lagi lho," batin saya dalam hati usai melepaskan tiga ekor ayam petelur di kandang ayam peninggalan almarhum Bapak.

Hampir tiga tahun ini kandang ayam milik alm. Bapak kosong. Padahal dulunya ketika alm. Bapak masih ada, kandang ayam ini lumayan ramai dihiasi suara kokok ayam. Seingat saya dulu kandang ayam ini jadi salah satu tempat favorit alm. Bapak melepas penat selain tegalan dekat rumah.

"Bapak ke kandang dulu ya, mau ngasih makan ayam," pamit alm. Bapak yang selalu saya ingat setiap pagi dan sore hari. Kadang ia akan pulang membawa beberapa telur sambil berkata dengan tersenyum, "Ayamnya bapak habis bertelur, lumayan bisa buat lauk."

Oiya, sebelum mendirikan kandang ayam di dekat rumah mbak (ibunya Caca) ini, dulu sewaktu saya kecil, alm. Bapak juga pernah punya kandang ayam di dekat rumahnya. Namun, ketika saya duduk di bangku SD kelas 3, alm. Bapak memutuskan untuk tidak memelihara ayam lagi. Barulah beberapa tahun kemudian, ketika saya sudah dewasa, alm. Bapak memutuskan untuk kembali memelihara beberapa ekor ayam.

Bermula dari sepasang ayam pemberian dari besan (mertua ibunya Caca), alm. Bapak memulai kegiatan ternak ayamnya. Kebetulan keinginan alm. Bapak didukung dengan adanya sedikit lahan kosong di samping rumah mbak. Alhasil, dibantu seorang tetangga, beliau mendirikan kandang ayam ini.

Dari sepasang ayam jenis bangkok, alm. Bapak membeli lagi 8 ekor ayam dengan jenis yang sama. "Biar ramai penghuninya," ujar alm. Bapak waktu itu.

Kalau diingat-ingat juga, dulu alm. Bapak sering mengajak Caca ke kandang ayam ini. Bukan mengajaknya masuk ke dalamnya sih, hanya mengajaknya melihat ayam-ayamnya dari celah-celah depan pintu kandang yang terbuat dari beberapa potong bambu. Saya beberapa kali menjumpai momen seperti itu dan ketika saya melihatnya, alm. Bapak terlihat begitu senang memperlihatkan ayam-ayamnya pada cucu perempuan kesayangannya. Sekarang justru saya yang sering mengajak Caca dan juga adiknya melihat ayam dari depan kandang.

Caca dan adiknya yang say ajak melihat ayam.

Sepeninggal alm. Bapak, membuat saya memilih untuk mengosongkan kandang ayamnya. Sebenarmya waktu itu, saya masih ingin meneruskan peninggalan alm. Bapak yang satu ini, tapi di sisi lain saya harus menjaga Caca. Khawatir tak sempat mengurus ayam-ayam peliharaan alm. Bapak, saya memutuskan untuk memberikan ayam-ayam tersebut ke salah satu tetangga. "Kalau diberikan ke Pak xxx, ayam-ayam bapak barangkli bisa lebih terawat," ucap saya pada mbak (ibunya Caca) ketika memutuskan hal tersebut.

Selang hampir tiga tahun kandang ayam alm. Bapak kosong, sekitar sebulan yang lalu saya memutuskan untuk mengisi kembali kandang ayamnya dengan tiga ekor ayam. Memang tak begitu banyak, tapi lumayan sebagai pengisi kandang sekaligus hiburan, terutama hiburan untuk Caca dan adiknya. Ah, iya, setiap kali saya akan memberi makan ayam-ayam peliharaan saya, Caca akan meminta izin pada ibunya seperti ini, "Mamah, aku ikut om kasih makan ayam, ya."

Bagian dalam kandang ayam alm. Bapak.

Andai alm. Bapak masih ada, barangkali Caca akan sering mengikutinya memberi makan ayam. Selain itu, pasti alm. Bapak juga akan tertawa ketika melihat Caca mengejar ayam-ayamnya atau justru malah sebaliknya, hehe...

Btw, sebelum memutuskan untuk kembali mengisi kandang ayam alm. Bapak, tentunya saya memulainya dengan membersihkannya lebih dulu. Merapikan dan membetulkan beberapa bagian kandang yang terlihat rusak. Lalu menaburkan beberapa karung sekam basah dan kapur deloit. Tujuan saya beri sekam basah sendiri di kandang sebagai media ceker-ceker ayam. Sedangkan penaburan kapur deloit tujuannya agar kandang ayamnya tidak menimbulkan bau yang menyengat.

Setelah penaburan sekam basah & kapur deloit.

Sekitar 3 hari saya mempersiapkan kandang ayam alm. Bapak sebelum mengisinya kembali. Setelah saya rasa kandangnya sudah siap, saya menghubungi seorang kawan yang menjual ayam. Sebenarnya kawan saya ini menjual dua jenis ayam, yaitu ayam KUB dan ayam petelur. Saya sendiri memilih ayam petelur, selain karena harganya yang lebih murah juga karena saya memelihara ayam hanya untuk diambil telurnya bukan dagingnya. Toh, ini juga bukan untuk bisnis, sekadar untuk hiburan saja. Jadi, saya rasa ayam petelur dengan jumlah yang tidak banyak ini sudah cukup untuk memulai menghidupkan kembali kandang ayam peninggalan alm. Bapak.


Oiya, setelah melepas 3 ekor ayam ke dalam kandang ayam alm. Bapak, saya merasa tak akan terjadi hal yang buruk. Tapi, dua hari setelahnya, ketika pagi-pagi saya akan memberi makan ayam, dari 3 ekor ayam yang saya pelihara, hanya tersisa dua. Melihat ketidaklengkapan itu, tentunya saya merasa gelisah. "Kalau dimakan tikus atau ular, bukannya harusnya ada suara berisik tadi malam? Apa ayamya lepas, ya? Tapi lepas kemana?" tanya saya dalam hati waktu itu.

Dengan cepat, saya mencoba untuk mengecek sekeliling kandang. Baik di dalam maupun di luarnya. Selang setengah jam, saya menjumpai 1 ekor ayam saya yang ternyata lepas ke lahan kosong di samping rumah mbak. Menjumpainya sedang nongki santai di atas dahan pohon mangga. Saya lantas mencoba untuk menangkapnya. Tapi, ah sialnya ayam itu lebih gesit dari saya. Apalagi ditambah medan yang cukup sulit dan luas lahan yang lumayan luas. Hampir satu jam saya mengejarnya, dan berujung pada bendera putih yang saya kibarkan alias saya menyerah karena lelah dan harus buru-buru berangkat kerja.

"Yah, kalau masih rezeki, nanti balik lagi. Kalau belum, ya udah diikhlasin aja," batin saya dalam hati sambil ngos-ngosan. Dan benar saja ternyata ayam itu masih rezeki saya. Sore hari sepulang kerja, ketika saya akan memberi makan ayam, saya menjumpai ayam yang lepas itu sudah ada di dalam kandang.

Celah di kandang yang sudah tertutup.

Usai kejadian lepasnya ayam saya itu, saya kemudian menutup beberapa celah di atas kandang menggunakan jaring pagar plastik. Usut punya usut, ternyata ayam saya lepas karena celah itu yang dengan mudahnya bisa dilalui ayam-ayam peliharaan saya. Nah, sekarang sepertinya ayam saya tak akan lepas lagi. Iya, jangan lepas lagi ya yam, cukup harapanku saja yang lepas, kalian jangan ya. Betah-betah di sini dan semoga nyaman. Saya tunggu telur-telur kalian, ya, hehe...