NgeShare - Terima Kasih Chobi
Kenalkan, namanya Chobi, motor Honda CB100 keluaran tahun 1978. Aku membelinya setahun lalu, yang dulu niatnya beli karena ingin belajar mengendarai motor kopling. Sebuah keinginan yang sebenarnya sudah lama aku pendam. Tapi keinginan itu baru memuncak ketika melihat kegemaran Kakak Iparku (Ayahnya Caca) yang sering touring menggunakan motor koplingnya.
Berhubung hidup cuma sekali, rasa-rasanya nggak ada salahnya untuk belajar mengendarai motor kopling, kan? Ah, iya, sebelum mulai belajar mengendarai motor kopling menggunakan si Chobi ini, aku awalnya belajar menggunakan motor RX Spesial milik ayahnya Caca, dan ternyata lumayan susah. "Yah, barangkali karena memang belum terbiasa," pikirku waktu itu.
Aku lalu kepikiran untuk beli motor kopling sendiri. Iya, beli, karena motor ayahnya Caca ini nggak selalu ada di rumah karena dibawanya bekerja di luar kota. Jadi, harus nunggu motornya ada dulu, baru bisa belajar. Mengingat ada pepatah mengatakan "bisa karena terbiasa", tapi kalau alatnya nggak selalu ada, rasanya akan sulit untuk menjadi terbiasa. Aku memutuskan untuk membeli motor kopling sendiri.
"Nyari yang CCnya kecil aja, ah. Toh buat belajar," pikirku ketika akan mencari motor pilihanku di Facebook Marketplace. Pilihanku akhirnya tertuju pada si Choobi ini. Selain karena tampilannya yang terlihat masih bagus, juga karena surat-suratnya masih lengkap, ditambah lagi pajaknya masih hidup. Aku lantas mengajak penjual si Chobi ini untuk CODan di rumah mbak. Dan setelahnya, aku mulai belajar mengendarainya.
Mati mesin yang tiba-tiba jadi tantanganku ketika belajar mengendarainya Chobi. "Lama-lama nanti pasti kamu bisa nemuin fellingnya buat ngepasin antara kopling dan gasnya," ujar Kakak Iparku. Dan benar saja, lama-kelamaan fellingku untuk menyeimbangkan gas dan kopling muncul. Aku baru lancar mengendarai Chobi setelah 2 minggu belajar. Lumayan lama, ya? Hehe...
Btw, dulu niatnya beli Chobi ini hanya untuk sekadar belajar. Eh, nggak taunya malah lanjut ke restorasinya. Dari mulai ganti tangki, slebor belakang, knalpot, swing arm, sampai kelistrikan dan lampunya. Seingatku proyek terakhir restorasi si Chobi ini, yaitu ganti shock belakangnya.
Setelah tampilan Chobi terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya, dan aku juga sudah lumayan handal mengendarainya, aku memberanikan diri untuk mengendarainya dengan jarak yang lebih jauh dari sekitaran rumah. Sesekali juga sambil mengajak Caca yang kalau aku ajak selalu bilang, "Asyik, naik motol melah Om."
Dulu, aku pun pernah sekali mengajak Chobi touring cukup jauh. Touring ke kota Solo dengan maksud untuk nostalgia. Sebenarnya aku ingin mengendarainya hingga ke Yogyakarta dengan tujuan salah satu toko buku yang terkenal di sana. Sayangnya, di Solo, aku menjumpai ada tetesan oli yang menetes dari bawah mesin Chobi. "Wah, rembes, nih," ujarku kecewa dengan agak panik.
Tak mau ambil resiko, aku mengurungkan niatku untuk melanjutkan perjalanan ke Yogya. Selesai membawa Chobi ke bengkel terdekat di Solo, aku putar balik untuk pulang ke Ngawi. Tapi bukannya lewat jalan bawah (jalan Sragen - Ngawi), aku justru pulang melalui jalan Tawangmangu Maospati.
"Ah, nyoba lewat Tawangmangu ah. Cuaca panas gini kayaknya enak kalau lewat Tawangmangu," batinku dalam hati. Dan ternyata memang enak, karena waktu itu Tawangmangu sedang sejuk-sejuknya. Ditambah lagi si Chobi yang begitu nyaman melalui naik turunnya jalanan Tawangmangu. Momen berkendara waktu itu makin seru lagi ketika aku berpapasan dengan pengendara CB lain. Mereka akan mengklaksonku dengan gestur menyapa. "Ah, jadi gini ya rasanya punya motor CB," batinku senang dalam hati. Itu jadi momen pertama sekaligus terkahir kalinya aku touring dengan si Chobi.
Hampir setahun Chobi menemaniku, aku memutuskan untuk menjualnya. "Ah, rasanya sudah cukup dengan Shogi dan Bety (motor beatku)," batinku dalam hati ketika berniat untuk menjual Chobi. Sebenarnya aku masih ingin menyelesaikan proyek restorasi Chobi, tapi mengingat ada kebutuhan lain yang lebih penting, menjualnya adalah pilihan yang menurutku bijak.
Tepat dua hari yang lalu, seorang dari luar kota membeli si Chobi. "Mau buat ponakanku, Mas. Orange pengen motor CB," ujarnya dengan wajah ceria. Aku menyambutnya dengan hangat, lalu menjelaskan perihal kelengkapan surat dan kondisi Chobi padanya. Tak sampai setengah jam, aku dan pembeli Chobi sudah deal. Setelah itu, Chobi dinaikkan ke atas mobil pickup untuk dibawa pulang pemilik barunya. "Ca, sekarang udah nggak bisa jalan-jalan lagi pakai motor merahnya om, ya," batinku dalam hati ketika melepas kepergian Chobi dengan pemilik barunya.
_____
"Terima kasih untuk cerita perjalanannya, Bi. Semoga kamu awet dengan pemilik barumu, ya."
NgeShare - Terima Kasih Chobi
Reviewed by Surya Adhi
on
7/06/2026
Rating: 5


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)






.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
