NgeShare - Bekal
Tadi pagi sepulang dari rumah alm. Bapak, aku melihat mbak (ibunya Caca) sedang sibuk di dapur rumahnya. "Mau bikin bekal untuk Caca," ujarnya sambil tangannya sedang sibuk memotong tempe setelah kutanyai perihal apa yang dilakukannya. Melihat mbak yang sedang sibuk, aku jadi teringat ucapannya tadi malam yang mengatakan kalau MBG di sekolah Caca masih belum berjalan, dan juga ada anjuran dari sekolah Caca agar para orang tua murid bisa membawakan anaknya bekal.
"Itu yang wadah biru untuk kamu, ya," kata mbak kepadaku sambil menunjukkan wadah bekal berwarna biru yang sudah disiapkannya di atas meja makan. Setelah mengucapkan terima kasih pada mbak, aku sejenak memandangi wadah bekal itu, sebelum akhirnya bergegas mengambil handuk untuk lekas mandi dan lanjut berangkat ke tempat kerja.
Ketika akan berangkat kerja, aku tak lupa membawa bekal yang sudah disiapkan mbak. Kumasukkan wadah bekal yang ukurannya cukup besar itu pada wadah kresek bening. Lalu menggantungkannya pada gantungan barang yang ada di motorku. Sebelum menyalakan motor, sejenak aku terdiam lagi. Terdiam sambil memandangi wadah bekal itu, lalu mengingat kenangan masa lalu. Kenangan waktu pertama dan terakhir kalinya aku dibuatkan bekal oleh almh. Ibu ketika pertama kali bekerja.
Seingatku 6 tahun yang lalu, sepulang dari masa training. "Bu, boleh nggak kalau besok aku minta dibuatkan bekal? Itung-itung biar hemat juga, Bu, hehe...," ujarku pada almh. ibu.
"Boleh, mau dimasakin apa?" tanya almh. Ibu waktu itu.
"Kayaknya nasi goreng pakai telur dadar enak, Bu, hehe..." jawabku.
Esoknya sebelum Subuh, aku mendengar suara seseorang sedang memasak di dapur. "Hmm..., bau nasi goreng, Ibu pasti sedang menyiapkan bekalku," batinku dalam hati usai terbangun dari mimpi.
"Nasi gorengnya udah ibu siapin di dalam wadah bekal itu ya, jangan lupa dibawa," pesan ibu padaku ketika aku menyusulnya ke dapur.
Di tempat kerja, waktu jam istirahat, aku menyantap bekal yang dibuatkan Ibu dengan lahap. Dan entah kenapa rasanya waktu itu, rasa nasi goreng buatan ibu terasa nikmat sekali. Eh, tapi nasi goreng buatan beliau yang sebelum-sebelumnya juga nikmat lho, hanya saja yang ini rasanya lebih nikmat dari sebelumnya.
Pada hari berikutnya, ibu mengeluh sakit, dan mengharuskannya untuk rawat jalan. Aktivitasnya di rumah juga harus dikurangi, tak lagi boleh melakukan aktivitas berat, apalagi memasak. Dokter menganjurkannya untuk beristirahat total. Dan semenjak saat itu, aku tak lagi melihat ibu memasak sampai akhirnya Allah memanggilnya untuk pulang.
"Bu, barangkali di sana kau dan bapak sudah melihatnya. Melihatt anak perempuanmu satu-satunya yang dulu kalau mau masak harus nunggu moodnya dulu sekarang sudah bisa menyiapkan bekal untuk anaknya. Bukan hanya bekal untuk cucumu saja, tapi juga untukku, lho. Ah, jadi kangen bekal buatanmu, Bu, hehe...," batinku dalam hati sambil masih memandangi wadah bekal yang kugantungkan pada gantungan barang di motorku. Usai memandangangi wadah bekal itu dan mengingat masa lalu, aku menyalakan motor. Lalu tancap gas menuju tempat kerja dengan harapan semoga tidak terlambat karena aku baru berangkat di waktu yang mepet, hehe...
"Itu yang wadah biru untuk kamu, ya," kata mbak kepadaku sambil menunjukkan wadah bekal berwarna biru yang sudah disiapkannya di atas meja makan. Setelah mengucapkan terima kasih pada mbak, aku sejenak memandangi wadah bekal itu, sebelum akhirnya bergegas mengambil handuk untuk lekas mandi dan lanjut berangkat ke tempat kerja.
Ketika akan berangkat kerja, aku tak lupa membawa bekal yang sudah disiapkan mbak. Kumasukkan wadah bekal yang ukurannya cukup besar itu pada wadah kresek bening. Lalu menggantungkannya pada gantungan barang yang ada di motorku. Sebelum menyalakan motor, sejenak aku terdiam lagi. Terdiam sambil memandangi wadah bekal itu, lalu mengingat kenangan masa lalu. Kenangan waktu pertama dan terakhir kalinya aku dibuatkan bekal oleh almh. Ibu ketika pertama kali bekerja.
Seingatku 6 tahun yang lalu, sepulang dari masa training. "Bu, boleh nggak kalau besok aku minta dibuatkan bekal? Itung-itung biar hemat juga, Bu, hehe...," ujarku pada almh. ibu.
"Boleh, mau dimasakin apa?" tanya almh. Ibu waktu itu.
"Kayaknya nasi goreng pakai telur dadar enak, Bu, hehe..." jawabku.
Esoknya sebelum Subuh, aku mendengar suara seseorang sedang memasak di dapur. "Hmm..., bau nasi goreng, Ibu pasti sedang menyiapkan bekalku," batinku dalam hati usai terbangun dari mimpi.
"Nasi gorengnya udah ibu siapin di dalam wadah bekal itu ya, jangan lupa dibawa," pesan ibu padaku ketika aku menyusulnya ke dapur.
Di tempat kerja, waktu jam istirahat, aku menyantap bekal yang dibuatkan Ibu dengan lahap. Dan entah kenapa rasanya waktu itu, rasa nasi goreng buatan ibu terasa nikmat sekali. Eh, tapi nasi goreng buatan beliau yang sebelum-sebelumnya juga nikmat lho, hanya saja yang ini rasanya lebih nikmat dari sebelumnya.
Pada hari berikutnya, ibu mengeluh sakit, dan mengharuskannya untuk rawat jalan. Aktivitasnya di rumah juga harus dikurangi, tak lagi boleh melakukan aktivitas berat, apalagi memasak. Dokter menganjurkannya untuk beristirahat total. Dan semenjak saat itu, aku tak lagi melihat ibu memasak sampai akhirnya Allah memanggilnya untuk pulang.
"Bu, barangkali di sana kau dan bapak sudah melihatnya. Melihatt anak perempuanmu satu-satunya yang dulu kalau mau masak harus nunggu moodnya dulu sekarang sudah bisa menyiapkan bekal untuk anaknya. Bukan hanya bekal untuk cucumu saja, tapi juga untukku, lho. Ah, jadi kangen bekal buatanmu, Bu, hehe...," batinku dalam hati sambil masih memandangi wadah bekal yang kugantungkan pada gantungan barang di motorku. Usai memandangangi wadah bekal itu dan mengingat masa lalu, aku menyalakan motor. Lalu tancap gas menuju tempat kerja dengan harapan semoga tidak terlambat karena aku baru berangkat di waktu yang mepet, hehe...
NgeShare - Bekal
Reviewed by Surya Adhi
on
7/14/2026
Rating: 5


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)



