18 Oktober 2026

NgeShare - Pohon Kenangan


Tiap kali pergi ke kebun dan melihat pohon jeruk pecel ini, saya jadi selalu teringat dengan kebiasaan yang dulu dilakukan oleh almarhumah Ibu di pagi hari. Selesai melakukan pekerjaan rumah, beliau akan keluar rumah sebentar dengan sepeda onthel kesayangannya sambil membawa dua botol plastik bekas ukuran 1,5 liter yang telah diisi air. "Ibu mau ke kebun dulu, ya. Mau nyirami tanaman," ujarnya berpamitan kepada saya yang saat itu masih menganggur.

Ya, betul, dua botol plastik berisi air itu akan beliau gunakan untuk menyirami tanaman yang ada di kebun milik almarhum Bapak. Kalau ditanya kenapa menyiraminya pakai air yang diisi pada dua wadah botol bekas, jawabnya sederhana. Ya, karena di kebun alm. Bapak belum ada sumber airnya. Sebenarnya bisa-bisa saja mendatangkan sumber air dengan membuat sumur atau memasang saluran air dari PDAM. Tapi, mengingat kebun itu bukan kebun komersil dan hanya sekadar ditanami untuk kebutuhan sendiri, alm. Bapak belum memiliki niatan untuk membuat sumber air di kebunnya.

Ah, iya, btw jarak antara rumah dengan kebun sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi kalau pulang perginya jalan kaki, apalagi di saat cuaca sedang panas sekali, rasanya akan cukup melelahkan. Jadi, sepeda onthel merupakan pilihan bijak untuk menuju ke sana. Selain karena biar hemat plus sehat, juga agar tidak menimbulkan polusi udara, ya, hehe...

Kembali lagi ke perihal almh. Ibu yang pergi ke kebun. Setau saya, almh. Ibu memelihara beberapa tanaman waktu itu. Seingat saya ada tanaman srikaya, jambu biji, dan tanaman jeruk pecel yang telah saya ceritakan di awal tadi. Untuk tanaman jeruk pecel, setau saya almh. ibu menanam dua pohon. Beliau menanamnya dari masih biji yang diperolehnya dari jeruk pecel yang dibeli di tukang sayur keliling. Sementara untuk srikaya dan jambu, beliau menangkarkannya sendiri dari biji buah yang telah ditanam di pekarangan rumah.

Seingat saya, waktu itu almh. Ibu memang punya niatan untuk menanam ketiga jenis tanaman itu di kebun milik alm. Bapak. "Kalau ditanam di pekarang rumah udah nggak mungkin, jadi ini mau ibu tanam di kebun saja," ujar almh. Ibu ketika akan memindahkan bibit-bibit tanamannya yang mulai membesar itu. Masih dengan sepeda onthel kesayangannya, beliau membawa bibit-bibit tanaman itu ke kebun, lalu menanamnya di sana.

Beberapa buah jeruk pecel yang tergeletak di tanah.

Setiap pagi, sekitar jam 8 atau jam 9, almh. Ibu dengan tlatennya menyirami tanaman-tanaman kecilnya itu. Sayangnya, dulu saya belum memiliki ketertarikan untuk berkebun, jadi waktu itu saya belum bisa membantu almh. Ibu merawat tanamannya. Dan sayangnya lagi, sewaktu almh. Ibu berpulang, tiga dari empat tanamannya itu mati. Menyisakkan satu tanaman jeruk pecel yang kini sudah tumbuh meninggi dan rimbun sekali.

Oiya, seingat saya, setelah kepergian almh. Ibu, alm. Bapak masih merawat tanaman jeruk pecel peninggalan almh. ibu. "Le, jeruk pecelnya ibu sudah berbuah, ini tak bawakan beberapa buah kalau mau dibikin es atau wedang jeruk," ujar alm. Bapak kepada saya sepulang dari kebunnya dengan raut wajah yang nampak semringah. Tanpa berpikir lama dan ngepasi waktu itu cuaca terasa panas sekali, saya pun mengambil satu buah jeruk pecel yang dibawa oleh alm. Bapak untuk saya buat menjadi es jeruk.

Kini tanaman jeruk pecel peninggalan almh. Ibu makin terlihat subur, bahkan dua bulan lalu buahnya banyak sekali. Saking banyak buahnya, pernah suatu ketika saat saya sedang siram-siram di kebun, ada orang lewat dan berkata, "Mas, itu buah jeruknya boleh saya beli?"

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya saya rasa bukan saya yang harus menjawab, melainkan pemilik baru dari pohon jeruk pecel itu. Ya, pohon jeruk pecel itu bukan punya saya, bukan juga punya alm. Bapak dan almh. Ibu lagi. Sebelum alm. Bapak meninggal, beliau membagi kebun kecilnya menjadi tiga bagian yang kemudian dibagikan ke anak-anaknya, termasuk saya. Dan kebetulan pohon jeruk itu ada di tanah kebun bagian milik Kakak.

Dan tepat dua tahun lalu, Kakak telah menjual tanah bagiannya itu kepada orang lain yang beberapa hari setelahnya baru saya ketahui kalau ternyata orang yang membeli tanah dulunya teman sekolah saya yang beda kelas. "Ah, dunia sempit sekali ternyata, ya," batin saya dalam hati ketika bertemu dengan teman sekolah saya yang membeli tanah milik Kakak.

Untungnya, setiap kali pohon jeruk pecel peninggalan almh. Ibu berbuah, teman saya itu mengizinkan untuk saya atau tetangga sekitar tanahnya memetik buah jeruknya. Yah, saya masih bersyukur bisa menikmatinya, meskipun saya juga harus sadar bahwa barangkali nantinya pohon ini tak akan ada lagi. Ya, tak akan ada lagi, sebab saya tahu tanah bagian milik Kakak yang sudah dibeli oleh teman saya ini nantinya di atasnya akan didirikan rumah. Entah kapan, hanya tinggal menunggu waktunya tiba.

Buah jeruk dari pohon jeruk pecel yang ditanam oleh almh. Ibu.

Maaf, saya bukan bermaksud untuk getun atau menolak bila pohon jeruk pecel itu dihilangkan, ya. Saya hanya sekadar mengingat-ingat saja perihal kenangan dari pohon ini. Saya pun sadar bahwa pohon ini bukan milik saya, jadi ya terserah pemilik barunya nanti. Mau dipertahankan atau tidak. Kalaupun tidak ya tak jadi masalah, setidaknya kenangannya sudah saya abadikan di sini. "Iya kan, Bu?"

21 September 2026

NgeShare - Seutas Keinginan dan Penerimaan


"Kita temenan aja, ya," ujar seorang wanita pada sebuah pesan singkat yang dikirimkannya pada saya. Pesan yang sampai saat ini masih saya ingat. Ya, saya ingat. Bukan mengingatnya sebagai kekalahan, bukan pula mengingatnya sebagai dendam. Hanya sebagai pengingat untuk saya agar lebih siap ketika niat baik tak selalu bisa terlaksana.

Walaupun pada akhirnya saya harus tetap ikhlas, pertama kali mendapati pesan itu, saya sempat merasa patah hati. Yah, wajar, saya hanya manusia biasa. Setelah sekian lama menanti dan berusaha mendekati, begitu ada kesempatan menyampaikan, justru penolakan yang saya dapatkan. Rasa-rasanya, manusia mana yang tak akan merasa patah hati? Apalagi ketika sebuah janji pernah ia katakan. "Nanti kalau aku sudah sendiri, aku kabari, ya," ujarnya pada pesan singkat yang ketika sebelumnya saya telah mengetahui bahwa hubungannya dengan kekasihnya sedang merenggang.

Sebulan setelah janji itu diutarakannya, saya masih mengingat ketika ia mengirimkan pesan yang kemudian saya baru bisa mengartikannya sebagai sebuah penepatan janji. "Aku sudah sendiri sekarang, sudah aku tepatin janjiku dulu yang mau mengabari kalau aku sudah nggak sama dia lagi, ya."

Mendapati pesan itu, saya masih memahaminya dalam-dalam dan setelahnya saya membatin dalam hati, "Barangkali ini jawaban dari do'a yang kusemogakan, akhirnya ia kembali." Saya lantas membalasnya selayaknya seorang laki-laki yang ingin mengajak seorang wanita ke jenjang hubungan yang serius. Sayangnya, seperti kalimat pertama di postingan ini, jawaban yang saya peroleh tak sesuai dengan yang saya harapkan.

Usai mendapat penolakan, saya sempat bertanya-tanya pada diri saya seperti halnya seseorang yang masih belum mengerti atas kegagalannya. Perihal apa yang kurang atau perihal apa ada tindakan yang kurang mengenakan dirinya. Lambat laun, saya mulai mengerti bahwa banyak kekurangan dalam diri saya yang membuatnya menolak saya. Terlebih lagi saya baru mengetahui perihal salah satu mimpinya ketika sudah menikah, yaitu memiliki mertua yang menyayanginya.

Ya, walaupun itu belum bisa dijadikan patokan terkait alasannya menolak saya, tapi saya mengerti bahwa itu merupakan salah satu keinginan yang ingin diwujudkannya. Apalagi menikah itu kan kalau bisa sekali seumur hidup. Barangkali ia ingin merasakan pernikahan selayaknya orang-orang pada umumnya. Dirayakan dengan hebat dan dihadiri dengan lengkap. Kalaupun misalnya ia akan benar-benar dengan saya, maka ia tak akan merasakan pernikahannya lengkap, yaitu dihadiri oleh kedua mertuanya.

Yah, mau bagaimana lagi, itu sudah jadi kehendak Yang Maha Kuasa. Saya sendiri sebagai seorang manusia biasa juga punya harapan semacam itu, terlebih lagi didampingi kedua orang tua. Tak apa-apa, memang belum rejeki saya. Setidaknya, saya pernah hidup dengan kasih sayang keduanya. Maaf, ya, Pak, Bu, saya belum bisa menjadi manusia yang pada umumnya.

Ah, iya, mengingat kembali perihal salah satu keinginan wanita yang pernah saya sukai. Beberapa minggu setelah mengetahui salah satu keinginannya itu, saya sempat berpikir apabila ia ingin memiliki mertua yang menyayanginya selayaknya menyayangi anaknya sendiri, apakah ia sendiri juga siap untuk memberi hal serupa pada mertuanya kelak? Terlebih lagi ketika mertua atau orang tuanya telah sepuh dan sedang sakit?

Maaf, bukan bermaksud menghakimi atau menyalahkannya. Saya hanya sedang ingin berkontemplasi perihal mertua dan orang tua. Mengingat mereka adalah orang yang sepatutnya kita hormati dan juga mengingat bahwa suatu saat mereka membutuhkan bantuan kita, entah sebagai anak kandung atau anak mantu.

Kita menyadari bahwa mereka terus menua, sebelum akhirnya meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Dan di waktu mereka menua itu, ya meskipun ada anak mereka yang lain yang barangkali juga bisa membantu, mau tidak mau bukankah kita harus siap membantu ketika mereka perlu bantuan sewaktu-waktu? Merawat orang tua, sepengalaman saya tak semudah merawat bayi. Perlu tenaga ekstra dan kesabaran yang luas. Itu dua hal yang sampai saat ini masih belum bisa saya miliki dengan baik.

Oleh sebab itu, saya rasa menikah bukan hanya siap menerima hal-hal baik. Menikah itu juga harus siap menerima hal-hal di luar kendali kita, termasuk salah satunya adalah merawat orang tua atau mertua kita yang sudah sepuh. Mengingat mereka yang merawat kita ketika masih kecil, maka siapa lagi kalau bukan kita yang nantinya akan merawat mereka ketika sudah tua?

Ah, maaf untuk kontemplasi saya ini. Memang bukan hal yang terlalu penting-penting sekali untuk orang lain, tapi saya rasa ini penting untuk saya pahami. Dan teruntuk kamu yang dulu pernah saya sukai, semoga segala mimpi baikmu lekas terwujud. Saya di sini sudah ikhlas menerima keputusanmu, dan saya di sini berharap kebaikan selalu menyertaimu. Terima kasih untuk cerita dan kenangannya, baik-baik di manapun berada, ya.

17 Juli 2026

NgeShare - Sepeda Caca

Akhirnya sepeda itu digunakan lagi setelah setahun tak dipakai. Aku ingat membelinya untuk Caca, ketika usianya masih 2 tahun. Kubelikan karena mengingat salah satu keinginan alm. Bapak yang belum sempat terlaksana. "Nanti kalau kamu sudah agak besar, mbah kung belikan sepeda, ya, Nduk," ujar alm. Bapak waktu itu yang sedang menggendong Caca.

Berhubung masih ada rejeki dan mumpung teringat keinginan alm. Bapak, aku memutuskan untuk membeli sepeda ini sebagai hadiah ulang tahunnya yang kedua. Aku masih ingat betul waktu pertama kali Caca melihat sepeda ini. Ia bingung sesaat, sebelum akhirnya tertawa setelah kunaikan ia ke atas sepedanya. Ia terlihat senang ketika sepeda mulai kudorong dan kuajak berkeliling. Sayangnya setelah Caca sudah bisa berjalan, sepeda roda tiga ini mulai jarang digunakan. Ditambah lagi aku yang mulai kembali sibuk bekerja tak sempat mengajaknya jalan-jalan dengan sepeda roda tiganya.

Tak terasa sepeda itu hanya terparkir di garasi hampir 2 tahun. Melihat Jian (adik Caca) yang sudah mulai terlihat agak besar dan bisa duduk, aku jadi teringat dengan sepeda Caca yang ada di garasi. "Sepertinya Jian sudah bisa didudukan di sepeda ini," batinku dalam hati. Kalau Jian bisa pakai sepeda ini, jika nanti aku atau pengasuhnya mau mengajaknya jalan-jalan, Jian tidak perlu digendong lagi, pikirku juga waktu melihat sepeda Caca.

Hampir 2 tahun sepeda ini tak terpakai, tentunya ia tak lepas dari debu-debu dan kotoran. Aku memutuskan untuk membersihkannya. Selesai mencuci motor, aku lanjutkan dengan mencuci sepeda Caca.

Ya, maklum hampir 2 tahun tidak digunakan, kotornya sepeda Caca sudah minta ampun. Selesai mencuci sepeda Caca, aku menjemurnya di bawah sinar matahari langsung. Berharap bisa cepat kering dan digunakan Jian. Eh, tapi belum sempat kering ternyata Mbak (ibunya Caca & Jian) mencuci ulang sepeda itu.

"Tak cuci lagi ya, masih ada kotoran yang perlu disikat ini," ujar Mbak sambil menyikat jok sepeda Caca. Esoknya, sepeda itu baru kering. Dan ketika sudah kering, ibunya Caca membawa sepeda itu ke dalam rumah dengan maksud akan mencoba mendudukan Jian di sepeda itu. Ah, tapi belum sempat mendudukan Jian, Caca buru-buru naik ke sepeda itu. "Wah, ini sepedaku," ujarnya dengan begitu riang.

Alhasil, rencana Mbak waktu itu terhenti sejenak. Mbak menunggu Caca merasa bosan dulu dengan sepedanya. Ketika Caca sudah bosan dengan sepedanya, barulah Mbak mendudukan Jian di sepeda itu. Jian awalnua merasa bingung, sebelum akhirnya terlihat senang dengan kakinua yang terus-terusan bergerak. Ah, tapi baru sekitar 15 menit Jian duduk di atas sepeda itu, Caca protes dengan berkata, "Mama, itu sepedaku!"

Mendengar kalimat protes Caca, Mbak geleng-geleng kepala sebelum akhirnya berkata, "Jian pinjam sebentar sepedanya, ya, Kak." Sayangnya Caca belum begitu mengerti dan memaksa agar Jian turun dari sepedanya. Lucunya beberapa hari setelah kejadian itu, Caca terlihat lebih sering mendorong sepeda yang sedang dinaiki adiknya. Ia nampak seperti seorang kakak yang sedang ngemong/ mengasuh adiknya.

"Kalau saja Mbah Kung & Mbah Uti kalian masih ada, mungkin mereka berdua akan tertawa melihat tingkah laku kalian berdua," batinku dalam hati saat melihat Caca sedang mendorong sepeda yang dinaiki adiknya.

14 Juli 2026

NgeShare - Bekal Kenangan

Tadi pagi sepulang dari rumah alm. Bapak, aku melihat mbak (ibunya Caca) sedang sibuk di dapur rumahnya. "Mau bikin bekal untuk Caca," ujarnya sambil tangannya sedang sibuk memotong tempe setelah kutanyai perihal apa yang dilakukannya. Melihat mbak yang sedang sibuk, aku jadi teringat ucapannya tadi malam yang mengatakan kalau MBG di sekolah Caca masih belum berjalan, dan juga ada anjuran dari sekolah Caca agar para orang tua murid bisa membawakan anaknya bekal.

"Itu yang wadah biru untuk kamu, ya," kata mbak kepadaku sambil menunjukkan wadah bekal berwarna biru yang sudah disiapkannya di atas meja makan. Setelah mengucapkan terima kasih pada mbak, aku sejenak memandangi wadah bekal itu, sebelum akhirnya bergegas mengambil handuk untuk lekas mandi dan lanjut berangkat ke tempat kerja.

Ketika akan berangkat kerja, aku tak lupa membawa bekal yang sudah disiapkan mbak. Kumasukkan wadah bekal yang ukurannya cukup besar itu pada wadah kresek bening. Lalu menggantungkannya pada gantungan barang yang ada di motorku. Sebelum menyalakan motor, sejenak aku terdiam lagi. Terdiam sambil memandangi wadah bekal itu, lalu mengingat kenangan masa lalu. Kenangan waktu pertama dan terakhir kalinya aku dibuatkan bekal oleh almh. Ibu ketika pertama kali bekerja.

Seingatku 6 tahun yang lalu, sepulang dari masa training. "Bu, boleh nggak kalau besok aku minta dibuatkan bekal? Itung-itung biar hemat juga, Bu, hehe...," ujarku pada almh. ibu.

"Boleh, mau dimasakin apa?" tanya almh. Ibu waktu itu.

"Kayaknya nasi goreng pakai telur dadar enak, Bu, hehe..." jawabku.

Esoknya sebelum Subuh, aku mendengar suara seseorang sedang memasak di dapur. "Hmm..., bau nasi goreng, Ibu pasti sedang menyiapkan bekalku," batinku dalam hati usai terbangun dari mimpi.

"Nasi gorengnya udah ibu siapin di dalam wadah bekal itu ya, jangan lupa dibawa," pesan ibu padaku ketika aku menyusulnya ke dapur.

Di tempat kerja, waktu jam istirahat, aku menyantap bekal yang dibuatkan Ibu dengan lahap. Dan entah kenapa rasanya waktu itu, rasa nasi goreng buatan ibu terasa nikmat sekali. Eh, tapi nasi goreng buatan beliau yang sebelum-sebelumnya juga nikmat lho, hanya saja yang ini rasanya lebih nikmat dari sebelumnya.

Pada hari berikutnya, ibu mengeluh sakit, dan mengharuskannya untuk rawat jalan. Aktivitasnya di rumah juga harus dikurangi, tak lagi boleh melakukan aktivitas berat, apalagi memasak. Dokter menganjurkannya untuk beristirahat total. Dan semenjak saat itu, aku tak lagi melihat ibu memasak sampai akhirnya Allah memanggilnya untuk pulang.

"Bu, barangkali di sana kau dan bapak sudah melihatnya. Melihatt anak perempuanmu satu-satunya yang dulu kalau mau masak harus nunggu moodnya dulu sekarang sudah bisa menyiapkan bekal untuk anaknya. Bukan hanya bekal untuk cucumu saja, tapi juga untukku, lho. Ah, jadi kangen bekal buatanmu, Bu, hehe...," batinku dalam hati sambil masih memandangi wadah bekal yang kugantungkan pada gantungan barang di motorku. Usai memandangangi wadah bekal itu dan mengingat masa lalu, aku menyalakan motor. Lalu tancap gas menuju tempat kerja dengan harapan semoga tidak terlambat karena aku baru berangkat di waktu yang mepet, hehe...

6 Juli 2026

NgeShare - Terima Kasih Chobi

Kenalkan, namanya Chobi, motor Honda CB100 keluaran tahun 1978. Aku membelinya setahun lalu, yang dulu niatnya beli karena ingin belajar mengendarai motor kopling. Sebuah keinginan yang sebenarnya sudah lama aku pendam. Tapi keinginan itu baru memuncak ketika melihat kegemaran Kakak Iparku (Ayahnya Caca) yang sering touring menggunakan motor koplingnya.

Berhubung hidup cuma sekali, rasa-rasanya nggak ada salahnya untuk belajar mengendarai motor kopling, kan? Ah, iya, sebelum mulai belajar mengendarai motor kopling menggunakan si Chobi ini, aku awalnya belajar menggunakan motor RX Spesial milik ayahnya Caca, dan ternyata lumayan susah. "Yah, barangkali karena memang belum terbiasa," pikirku waktu itu.

Aku lalu kepikiran untuk beli motor kopling sendiri. Iya, beli, karena motor ayahnya Caca ini nggak selalu ada di rumah karena dibawanya bekerja di luar kota. Jadi, harus nunggu motornya ada dulu, baru bisa belajar. Mengingat ada pepatah mengatakan "bisa karena terbiasa", tapi kalau alatnya nggak selalu ada, rasanya akan sulit untuk menjadi terbiasa. Aku memutuskan untuk membeli motor kopling sendiri.

"Nyari yang CCnya kecil aja, ah. Toh buat belajar," pikirku ketika akan mencari motor pilihanku di Facebook Marketplace. Pilihanku akhirnya tertuju pada si Choobi ini. Selain karena tampilannya yang terlihat masih bagus, juga karena surat-suratnya masih lengkap, ditambah lagi pajaknya masih hidup. Aku lantas mengajak penjual si Chobi ini untuk CODan di rumah mbak. Dan setelahnya, aku mulai belajar mengendarainya.

Mati mesin yang tiba-tiba jadi tantanganku ketika belajar mengendarainya Chobi. "Lama-lama nanti pasti kamu bisa nemuin fellingnya buat ngepasin antara kopling dan gasnya," ujar Kakak Iparku. Dan benar saja, lama-kelamaan fellingku untuk menyeimbangkan gas dan kopling muncul. Aku baru lancar mengendarai Chobi setelah 2 minggu belajar. Lumayan lama, ya? Hehe...

Btw, dulu niatnya beli Chobi ini hanya untuk sekadar belajar. Eh, nggak taunya malah lanjut ke restorasinya. Dari mulai ganti tangki, slebor belakang, knalpot, swing arm, sampai kelistrikan dan lampunya. Seingatku proyek terakhir restorasi si Chobi ini, yaitu ganti shock belakangnya.

Setelah tampilan Chobi terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya, dan aku juga sudah lumayan handal mengendarainya, aku memberanikan diri untuk mengendarainya dengan jarak yang lebih jauh dari sekitaran rumah. Sesekali juga sambil mengajak Caca yang kalau aku ajak selalu bilang, "Asyik, naik motol melah Om."

Dulu, aku pun pernah sekali mengajak Chobi touring cukup jauh. Touring ke kota Solo dengan maksud untuk nostalgia. Sebenarnya aku ingin mengendarainya hingga ke Yogyakarta dengan tujuan salah satu toko buku yang terkenal di sana. Sayangnya, di Solo, aku menjumpai ada tetesan oli yang menetes dari bawah mesin Chobi. "Wah, rembes, nih," ujarku kecewa dengan agak panik.

Tak mau ambil resiko, aku mengurungkan niatku untuk melanjutkan perjalanan ke Yogya. Selesai membawa Chobi ke bengkel terdekat di Solo, aku putar balik untuk pulang ke Ngawi. Tapi bukannya lewat jalan bawah (jalan Sragen - Ngawi), aku justru pulang melalui jalan Tawangmangu Maospati.

"Ah, nyoba lewat Tawangmangu ah. Cuaca panas gini kayaknya enak kalau lewat Tawangmangu," batinku dalam hati. Dan ternyata memang enak, karena waktu itu Tawangmangu sedang sejuk-sejuknya. Ditambah lagi si Chobi yang begitu nyaman melalui naik turunnya jalanan Tawangmangu. Momen berkendara waktu itu makin seru lagi ketika aku berpapasan dengan pengendara CB lain. Mereka akan mengklaksonku dengan gestur menyapa. "Ah, jadi gini ya rasanya punya motor CB," batinku senang dalam hati. Itu jadi momen pertama sekaligus terkahir kalinya aku touring dengan si Chobi.

Hampir setahun Chobi menemaniku, aku memutuskan untuk menjualnya. "Ah, rasanya sudah cukup dengan Shogi dan Bety (motor beatku)," batinku dalam hati ketika berniat untuk menjual Chobi. Sebenarnya aku masih ingin menyelesaikan proyek restorasi Chobi, tapi mengingat ada kebutuhan lain yang lebih penting, menjualnya adalah pilihan yang menurutku bijak.

Tepat dua hari yang lalu, seorang dari luar kota membeli si Chobi. "Mau buat ponakanku, Mas. Orange pengen motor CB," ujarnya dengan wajah ceria. Aku menyambutnya dengan hangat, lalu menjelaskan perihal kelengkapan surat dan kondisi Chobi padanya. Tak sampai setengah jam, aku dan pembeli Chobi sudah deal. Setelah itu, Chobi dinaikkan ke atas mobil pickup untuk dibawa pulang pemilik barunya. "Ca, sekarang udah nggak bisa jalan-jalan lagi pakai motor merahnya om, ya," batinku dalam hati ketika melepas kepergian Chobi dengan pemilik barunya.
_____

"Terima kasih untuk cerita perjalanannya, Bi. Semoga kamu awet dengan pemilik barumu, ya."